Kami adalah penyedia jasa penerbitan dan percetakan yang telah beroperasi sejak tahun 2016, dan bergabung menjadi anggota IKAPI dengan nomor 258/JTE/2023. Jika Anda memiliki naskah yang masih nganggur, daftar dan terbitkan bukumu sekarang !!!LIHAT PAKET TERBIT- Menulis Untuk Kemanfaatan -

Kidung Hijau Bumi Mojo: Menenun Rahmat Illahi dan Merenda Ekologis di Tanah Mojo

 



Kidung Hijau Bumi Mojo: Menenun Rahmat Illahi dan Merenda Ekologis di Tanah Mojo

Penulis: Ahmad Farhan Afif, Ahmad Sholeh, Alif Munfarikha, Anandita Istiqomah, Irawati, Miftakhul Nikmah, Muhammad Ulin Ni'am, Niluh Tia Putu A'izatul Aliyah, Rismatul Baitiya Rohmah, Shella Arzeti Viranti Noor, Yusriana Rofiqoh Putri, Fathimatuz Zahra, MA.

Tebal: 187 halaman

Ukuran: 15,5 cm x 23 cm

Harga: 90.000

QRCBN: 62-250-5758-675



Ada kisah yang tidak cukup ditulis hanya dengan tinta. Ada cerita yang tumbuh dari langkah-langkah sederhana, dari sapaan hangat warga, dari tanah yang dipijak, dari doa yang dilangitkan, dan dari tangan-tangan yang bersama-sama merawat kehidupan. Kisah itu kami temukan di sebuah desa bernama Mojo, Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati. Di sanalah perjalanan pengabdian kami bermula, sebuah perjalanan yang mempertemukan ilmu, masyarakat, alam, dan nilai-nilai keimanan dalam satu ruang kehidupan.

Kidung Hijau Bumi Mojo lahir dari kesadaran bahwa alam bukan sekadar latar tempat manusia menjalani kehidupan. Alam adalah bagian dari amanah Tuhan yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tanah, pepohonan, air, udara, serta segala kehidupan yang tumbuh di dalamnya adalah bagian dari rahmat Ilahi yang sering kali hadir begitu dekat, tetapi baru terasa maknanya ketika kita belajar untuk berhenti sejenak dan melihatnya dengan lebih dalam.

Melalui tema ekoteologi, perjalanan Kuliah Kerja Nyata (KKN) STAI Pati di Desa Mojo menjadi lebih dari sekadar rangkaian program kerja. Setiap kegiatan menjadi ruang belajar untuk memahami bahwa pengabdian kepada masyarakat juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan. Menanam bibit, menjaga kebersihan, memanfaatkan kembali sesuatu yang dianggap tidak berguna, mendampingi anak-anak belajar, serta berbaur dalam kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat merupakan potongan-potongan kecil dari sebuah upaya besar: merawat bumi sebagai bagian dari tanggung jawab manusia kepada Sang Pencipta.

Mojo mengajarkan kami bahwa perubahan tidak selalu hadir dalam bentuk yang megah. Terkadang, perubahan tumbuh dari sebuah bibit kecil yang ditanam dengan harapan. Ia tumbuh dari halaman rumah yang dibersihkan bersama, dari limbah yang diubah menjadi karya, dari anak-anak yang belajar tentang lingkungan, atau dari percakapan sederhana bersama warga di teras rumah. Hal-hal kecil tersebut mungkin tampak sederhana, tetapi ketika dilakukan dengan ketulusan dan bersama-sama, ia dapat menjadi benih perubahan yang berarti.

Di sisi lain, kehidupan masyarakat Mojo memperlihatkan kepada kami bahwa nilai-nilai sosial dan keagamaan memiliki hubungan yang erat dengan kepedulian terhadap lingkungan. Gotong royong, kebersamaan, pengajian, tahlilan, dziba’an, kegiatan di masjid dan mushola, hingga interaksi sehari-hari masyarakat menjadi ruang yang memperlihatkan bagaimana kehidupan sosial terus dirawat. Dari sana kami belajar bahwa menjaga lingkungan bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga bagian dari membangun hubungan yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Buku antologi ini menjadi upaya kami untuk mengabadikan sebagian kecil dari perjalanan tersebut. Setiap tulisan di dalamnya merupakan serpihan pengalaman, refleksi, dan kenangan yang kami bawa pulang dari Desa Mojo. Ada cerita tentang masyarakat, pendidikan, keagamaan, toleransi, lingkungan, kebersamaan, dan berbagai dinamika yang kami temui selama menjalankan pengabdian. Setiap penulis mungkin memiliki sudut pandang yang berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu pengalaman yang sama: pernah menjadi bagian dari kehidupan Mojo.

Kami menyadari bahwa selama berada di Mojo, bukan hanya kami yang memberi, tetapi kami juga menerima begitu banyak pelajaran. Masyarakat mengajarkan tentang kesederhanaan, keramahan, gotong royong, ketulusan, dan cara memaknai kehidupan. Anak-anak mengajarkan keceriaan. Para tokoh masyarakat mengajarkan kebijaksanaan. Alam mengajarkan kesabaran. Dan waktu mengajarkan bahwa setiap perjumpaan, seberapa singkat pun, dapat meninggalkan jejak yang panjang dalam ingatan.

Karena itu, Kidung Hijau Bumi Mojo bukan sekadar dokumentasi kegiatan KKN. Buku ini adalah sebuah kesaksian kecil tentang perjumpaan manusia dengan masyarakat dan alam. Ia adalah usaha untuk menenun kembali pengalaman yang pernah kami jalani menjadi rangkaian cerita yang dapat dibaca, direnungkan, dan dikenang. Jika setiap pengalaman adalah sehelai benang, maka buku ini adalah kain yang kami tenun bersama, dengan warna pengabdian, kebersamaan, keimanan, dan kepedulian terhadap bumi.

Semoga tulisan-tulisan dalam antologi ini tidak berhenti sebagai kenangan tentang masa KKN. Semoga ia menjadi pengingat bahwa merawat bumi adalah bagian dari merawat kehidupan, bahwa mengabdi kepada masyarakat adalah bagian dari belajar menjadi manusia, dan bahwa menjaga alam dapat menjadi salah satu bentuk syukur atas rahmat Ilahi. Sebab pada akhirnya, bumi bukan hanya tempat kita berpijak. Ia adalah rumah yang dititipkan kepada kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Iklan Tersedia ads left available col-xs-12 col-sm-6 img-16-9

Iklan Tersedia <a href="wAC">ads left available col-xs-12 col-sm-6 img-16-9</a>
SPACE IKLAN - B1
10k / bulan
25k / 3 bulan

Iklan Tersedia ads right unavailable col-xs-12 col-sm-6 img-16-9

Iklan Tersedia <a href="wAC">ads right unavailable col-xs-12 col-sm-6 img-16-9</a>
SPACE IKLAN - B2
10k / bulan
25k / 3 bulan

Mungkin Kamu Sukacol-xs-12 col-sm-12 col-md-12 col-lg-10 col-lg-offset-1

8/grid/random/1-1/640