Hatiku Pulang
Penulis: Choirul Rahmat, Ali Adam Siregar, Ikhsan Tambubolon
Tebal: 163 halaman
Ukuran: 14,5 cm x 20,5 cm
Harga: 70.000
QRCBN: 62-250-6780-330
Antologi "Hatiku Pulang" merangkum kisah-kisah perjalanan spiritual para pencari kebenaran yang melintasi jalan sunyi menuju muara iman. Setiap cerita menghadirkan potongan takdir tentang keberanian melepas masa lalu, luka pengasingan dari orang-orang tercinta, hingga keharuan saat menemukan kedamaian yang sejati.
Kisah dibuka oleh Selvia (Kemilau yang Semu), seorang mantan pejabat yang rela melepas takhta, harta, dan kemewahan demi mengejar ketenangan batin yang tak pernah ia temukan di meja proyek. Pengorbanan serupa dialami oleh Ilham (Bisakah Aku yang Mengumandangkan Azan?), Devri (Hari Ketika Langit Menyebut Namanya), dan Nisa (Menyalin Takdir, Menemukan Pulang), yang langkah pertamanya dipicu oleh getaran asing saat mendengar panggilan azan dan ketulusan sesama.
Namun, jalan menuju hidayah tak pernah sepi dari benturan. Rania (Antara Ejekan dan Tangis Ibu), Bondan (Doakan Aku Ma, Meski Jalan Kita Berbeda), Mei Lan (Jalan Pulang Mei Lan), dan Nina (Cinta yang Menuntunku Bersujud) harus menelan kepahitan sewaktu pintu rumah masa kecil mereka dikunci rapat, nama mereka dicoret dari silsilah, dan kehadiran iman mereka ditolak keras oleh darah daging sendiri.
Di sudut lain, perjuangan batin yang teramat sunyi dirasakan oleh Daniel (Bayang-bayang Jendela Kamar) yang beribadah secara sembunyi-sembunyi demi menjaga perasaan ayahnya, serta Renata (Rumah di Ujung Sujud) dan Arini (Senja yang Menyisa Hangat) yang diuji oleh pengasingan dari sahabat dan lingkungan terdekat.
Meski dihimpit kemiskinan dan penderitaan, sosok seperti Abdur (Tangan di Atas), Arum (Debu di Telapak Tangan Arum), dan Retno (Cahaya di Balik Golgota) membuktikan bahwa di balik setiap kesulitan, pertolongan Tuhan selalu hadir tepat pada waktunya. Sementara itu, kisah Baskara (Rabithah) menjadi pengingat puitis tentang bagaimana hidayah sanggup meruntuhkan kesombongan manusia yang paling keras sekalipun.
"Hatiku Pulang" bukan sekadar kisah perpindahan keyakinan. Ini adalah kesaksian hangat bahwa meski dunia mengambil balik rumah, harta, dan penerimaan manusia, orang-orang yang bersujud tak kan pernah kehilangan tempat untuk pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar