Komunikasi Interpersonal Efektif,
Layanan Perpustakaan Perguruan Tinggi, &
Layanan Tandon Perpustakaan
Penulis : Radiya Wira Buwana
Tebal : 54 halaman
Ukuran : 14,5 x 20,5 cm
Harga : 50.000
QRCBN : 62-250-3351-805
Buku ini mengkaji tentang bagaimana komunikasi interpersonal efektif pustakawan pada layanan tandon di Perpustakaan UIN Sunan Kudus.
Penulis berharap buku ini dapat dinikmati oleh pembaca yang berminat pada kajian bidang kepustakawanan. Selamat membaca, semoga menginspirasi.
Sebagai profesi yang selalu berinteraksi dengan orang banyak, seorang pustakawan harus memiliki kemampuan komunikasi interpersonal yang baik. Dalam konteks perpustakaan, Mustofa et al (2023) menyebutkan bahwa komunikasi interpersonal antara pustakawan dan pemustaka terjadi saat pustakawan mulai berinteraksi dengan pemustaka yang sedang membutuhkan informasi di dalam perpustakaan. Menurut Istiana (2014), kemampuan komunikasi interpersonal pada pustakawan adalah tentang bagaimana seorang pustakawan mampu memiliki kemampuan untuk berinteraksi dengan pemustaka dan bagaimana pustakawan tersebut mampu membangun sebuah hubungan baik dengan pemustaka yang dilayaninya.
Di dalam undang-undang nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan, pustakawan didefinisikan sebagai seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan srta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sementara itu, pemustaka didefinisikan sebagai orang, sekelompok orang, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas dan/atau layanan suatu perpustakaan (Lasa HS, 2009). Senada, Suwarno (2009) mengistilahkan pemustaka sebagai user, yaitu pengguna fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan, baik koleksi buku, bahan pustaka, maupun fasilitas lainnya.
Ketika berinteraksi dengan pemustaka, pustakawan dituntut untuk mampu menciptakan sebuah proses komunikasi yang menyenangkan, berkesan positif, dan pada akhirnya proses penyampaian pesan dapat berjalan berhasil. Iskandar (2020) menambahkan bahwa komunikasi yang dilakukan oleh pustakawan kepada pemustaka haruslah dilakukan dengan bahasa yang jelas dan mudah dimengerti oleh pemustaka. Rajan (2024) menyebutkan bahwa keberhasilan pustakawan dalam berinteraksi dengan pemustaka antara lain dipengaruhi oleh kemampuan berkomunikasi yang baik, kedewasaan pustakawan, dan kemampuan pustakawan untuk membangun relasi yang baik dengan pemustaka.
Salah satu usaha yang dapat dilakukan oleh pustakawan untuk menciptakan layanan prima kepada pemustaka adalah bagaimana pustakawan mampu memilki komunikasi interpersonal yang efektif dengan pemustaka yang dilayaninya (Ferdy & Yuliana, 2023). Menurut Istiana (2014) kemampuan komunikasi interpersonal pustakawan saat berinteraksi dalam melayani pemustaka mampu menceminkan sebuah layanan yang positif, menyenangkan dan profesional. Senada, Rahyadi et al (2021) menyebutkan bahwa kemampuan pustakawan untuk berkomunikasi yang baik dengan pemustaka, akan meningkatkan citra positif perpustakaan kepada masyarakat yang dilayaninya. Dalam redaksi yang lain, Mustofa et al (2023) menyatakan bahwa membangun komunikasi interpersonal yang baik dengan pemustaka adalah sebuah contoh keterlibatan langsung pustakawan untuk meningkatkan kepuasan pemustaka dalam memanfaatkan layanan di perpustakaan.
Dalam situasi layanan di perpustakaan, komunikasi interpersonal yang efektif dapat terjadi pada suasana komunikasi yang nyaman, ramah dan sopan antara pustakawan dan pemustaka (Ulvi et al., 2024). Komunikasi interpersonal yang efektif akan menciptakan suasana layanan yang harmonis, kedekatan emosional, suasana yang saling percaya dan saling mendukung antara pustakawan dan pemustaka (Tania et al., 2024). Menurut DeVito (2016), terdapat lima unsur yang dapat menentukan tingkat kefektifan sebuah komunikasi interpersonal. Kelima unsur tersebut adalah, keterbukaan (openness), empati (empathy), sikap mendukung (supportiveness), sikap positif (positiviness), dan kesetaraan (equality).
Perpustakaan UIN Sunan Kudus merupakan perpustakaan perguruan tinggi yang memiliki multi pemustaka dengan multi kebutuhan. Menurut Heriyanto (2020) dalam sisi akademik, setiap perpustakan perguruan tinggi memiliki pengguna atau pemustaka yang spesifik, yaitu dosen, staf, dan mahasiswa. Ketiga pengguna tersebut hadir dengan kebutuhan informasi yang beragam dan berbeda setiap individunya.
Layanan tandon adalah salah satu layanan yang dimiliki oleh Perpustakaan UIN Sunan Kudus. Dalam buku panduan Perpustakaan IAIN Kudus (2024), disebutkan bahwa layanan tandon adalah layanan koleksi induk dari semua judul buku yang terdapat di Perpustakaan UIN Sunan Kudus. Dalam bahasa yang lebih praktis, layanan tandon di Perpustakaan UIN Sunan Kudus merupakan layanan yang menyimpan copy kesatu dari setiap koleksi buku yang ada di Perpustakaan UIN Sunan Kudus. Layanan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kudus jika buku yang mereka butuhkan semua eksemplarnya sudah terpinjam di layanan koleksi sirkulasi atau sebuah buku yang yang hanya tersedia satu eksemplar saja di Perpustakaan UIN Sunan Kudus.
Berdasarkan tugas dan fungsi dari layanan tandon di Pepustakaan UIN Sunan Kudus yang telah diuraikan, terlihat jelas bahwa layanan tersebut memiliki peran yang strategis dalam melayani kebutuhan informasi pemustaka. Oleh karena itu, pustakawan pada layanan tandon dituntut untuk mampu menciptakan layanan yang prima demi terpenuhinya kebutuhan informasi (kebutuhan referensi buku) pemustaka yang dilayaninya. Kekhususan atau eksklusifitas layanan pada layanan tandon di Perpustakaan UIN Sunan Kudus dapat menjadi rujukan penting bagi pemustaka yang kesulitan dalam membutuhkan referensi untuk tugas perkuliahan maupun referensi dalam menyelesaikan tugas akhir (skripsi/tesis).
Berangkat dari latar belakang tersebut, penulis merasa memiliki ketertarikan untuk mengangkat tema layanan tandon di Perpustakaan UIN Sunan Kudus sebagai sebuah kajian dalam buku ini. Kajian mengenai layanan tandon tersebut akan lebih berfokus tentang pustakawan, layanan tandon perpustakaan, dan komunikasi interpersonal efektif dalam perspektif Joseph A DeVito. Oleh karena itu, tema utama yang dapat diangkat dalam buku ini adalah tentang bagaimana komunikasi interpersonal efektif pustakawan pada layanan tandon di Perpustakaan UIN Sunan Kudus.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar